u3-Cuplikan-layar-2026-03-26-185738
Puisi – Amerta di Cakrawala Rasa

AMERTA DI CAKRAWALA RASA

Aprilia Dwi Lestari 

 

cinta itu jatuh perlahan 

bukan dari langit 

namun dari dasar jiwa yang gelisah 

tanpa bisik tanpa jejak 

namun bergema di lembah jiwa yang hening

 

aku menatapmu penuh kekaguman 

seperti menatap indahnya bianglala seusai hujan,

nada nada diam di perbatasan hari 

menitipkan henting yang renta 

di batas jarak dan asa

 

Kala gemintang berserah pada hening malam,

aku menulis namamu di antara sunyi dan cahaya.

Kutitipkan rinduku pada desir angin yang lalu,

agar semesta tahu ada cinta yang Amerta di buana hatiku

 

Bianglala itu Amerta di cakrawala rasa,

namun Buana enggan menyatukan warnanya.

Seperti aku dan kamu 

bersua dalam atma, terpisah di garis takdir.

 

Bila hujan kembali menyapa bumi,

kuharap bianglala itu membawa namamu.

Sebab di setiap lengkung warnanya,

masih ada aku, menunggu dalam diam yang abadi.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait